Hahaha… mungkin pertanyaan itu yang membuat siswa” yang bersekolah di luar Jakarta merasa “Sedikit beruntung” (dan gw salah satu orang yang beruntung itu
)
Study for life, not for score
Tapi bagaimana lagi, hal ini sudah direncanakan berbulan” sebelum hari ini dan berhubung efektif tahun 2009, maka mau ga mau ya harus mau.
Memajukan jam masuk sekolah adalah salah satu kebijakan pemkot Jakarta yang notabene bertujuan untuk menanggulangi kemacetan di Jakarta yang, ehem, makin parah saja. Ketika diberitakan, langsung saja banyak pro dan kontra dengan kebijakan ini. Di satu pihak, para karyawan (baca: pekerja) sangat menyetujui kebijakan ini karena dengan ini mereka dapat ke tempat kerja dengan cepat dan tidak harus stress karena macet di jalan (Ya… pihak ini sih yang diuntungkan, makanya setuju).
Di pihak siswa-siswi, jelas lah tidak setuju dengan kebijakan ini (kecuali ada 1 2 yang di TV setuju, mencari sensasi mungkin diantara yang tidak setuju =P). Kebijakan ini menurut mereka akan membuat mereka bangun lebih pagi (bukan pagi lagi, subuh sekali), apalagi mereka sudah pulang sore, harus mengerjakan PR, akibatnya waktu tidur yang berkurang.
Ironisnya, yang sering ditampilkan di TV adalah suara para pekerja, jadi kesannya kebijakan ini semua setuju gitu.
Kalau diusut” kembali, menurut statistik dari BPS mengenai pelaku kemacetan di Jakarta, arus pelajar hanya menyumbang 14% dari kemacetan total. Artinya kan sekitar 86% kemacetan disebabkan oleh faktor lain (dominannya pekerja). Tapi kenapa yang 14% ini yang dikorbankan?
Menurut gw ada beberapa alasan:
- Pelajar kan masih muda, masih dalam tahapan “Menurut”. Jadi ada kebijakan apa saja tentang dia ya harus Menurut
- Pekerja, sebaliknya mudah sekali protes, dan biasanya pekerja Indonesia protes dengan cara mogok kerja. Nah pikirkan kalau semua pekerja di Indonesia mogok kerja? Perekonomian tersendat kan? Sementara pemerintah Indonesia perlu “Duit” dari tenaga pekerja. Pastinya pemerintah akan “Memanjakan” pekerjanya.,
- Karena pekerja paling banyak, berarti problemnya paling kompleks… Kalau begitu akan sulit lagi memuat kebijakan yang “Fit all”. Butuh waktu lama, sementara keluhan masyarakat ngga bisa nunda”
Kalau ditinjau dari segi kesehatan, jelas kebijakan ini akan merugikan kesehatan anak-anak karena kebijakan ini akan membuat kurangnya waktu tidur anak-anak. Belum lagi anak” yang sekolah dari daerah nun jauh di sana, harus bangun tidur sebelum ayam berkokok, udara masih dingin dan hawanya tidak enak. Secara jangka panjang hal ini dapat merusak tubuh anak-anak.
Dan bila dilihat, nantinya kebijakan ini juga tidak efektif karena hanya “memajukan” atau “memperpanjang” waktu kemacetan saja. Mungkin saja subuh” nya mengantarkan anak ke sekolah lalu agak siang ke tempat kerja, jadi tidak satu jalan gitu. Akibat jangka panjangnya penggunaan kendaraan jadi lebih lama, dan emisi yang terbuang jadi lebih besar.
Sementara ini solusi yang paling baik adalah segera merealisasikan transportasi umum massal yang murah dan nyaman. Tapi lihat keadaan sekarang: Busway koridor terbaru masih menggantung nasibnya, Monorail masih berupa tiang saja, apalagi MRT (yang saya sendiri saja masih punya segudang pertanyaan apa bisa mengebor tanah di distrik yang banyak pencakar langitnya seperti Sudirman? Jangan” selesainya malah retak” bangunan Jakarta). Apakah ada relasi bisnis terselubung dari kebijakan ini?
Tapi bagaimana lagi, kebijakan ini sudah akan direalisasikan tahun ini, tepatnya tanggal 5 Januari. Kita sudah tidak dapat menolak hal ini kecuali memberikan kritik dan saran nantinya. Pemkot mengatakan, kalau tidak membawa perubahan positif selama 6 bulan, maka kebijakan ini akan dicabut. Kita lihat saja! (SaM)
9 Januari 2009 at 20:26
setuju sammmmmmmmmmmm
cara yang lain untuk menanggulangi macet ya itu, waktu sekolah dimundurkan jadi jam 9 mulainya, jadinya kita ngga usah bangun pagi, n jalanan juga ngga macet. SETUJUUUUUUUUUU????????